Home Sweet Home to Game Sweet Game

game online

Home Sweet Home to Game Sweet Game

Mungkin kamu lebih terbiasa melihat salah seorang keluargamu, atau mungkin kamu sendiri, tertawa sendirian di depan layar hp yang menampilkan game online dengan earphone terpasang sepanjang hari dibandingkan tertawa bersama di ruang makan sambil menceritakan kekonyolan masing-masing. Awalnya kamu akan menganggap itu hal biasa. Bermain game memang menyenangkan dan semua orang pasti menyukainya. Akan tetapi, perlahan tanpa kamu sadari, game berubah menjadi sebuah lubang hitam yang menyerap kamu dari kehidupan nyata di sekitar. Gabut sedikit, pasti tangan kamu otomatis mengakses game yang ada di smartphone. Butuh refreshing? Kini tidak perlu lagi repot keluar rumah karena game akan setia menghibur kamu kapan pun dan di mana pun. Bagaikan oasis di padang pasir, mobile game menghadirkan kebahagiaan yang menjadi zona nyaman dan sulit untuk dilepaskan. Game pun menjadi “rumah”’ yang nyaman untuk disinggahi setiap saat.

Game Online sebagai Escape Room

Kamu mungkin tidak asing dengan istilah Escape Room. Sesuai dengan arti katanya, escape room dapat diartikan sebagai suatu tempat bagi seseorang untuk pergi atau ‘kabur’. Di tengah situasi pandemi yang tak menentu seperti saat ini, game selalu menjadi escape room. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi hal tersebut. Alasan pertama adalah adanya kemudahan akses yang diberikan. Kecanggihan teknologi yang terus meningkat memberikan kemudahan akses yang tak terbatas kepada penggunanya. Dulu, untuk mengakses game online, kamu perlu datang terlebih dahulu ke Warnet, menyisihkan sejumlah uang untuk bermain, dan hanya dapat bermain dengan batas waktu tertentu. Namun, kini kamu hanya perlu membeli sebuah smartphone dan kamu sudah bisa mengakses game online kapan pun dan di mana pun.
Alasan kedua adalah game sendiri memang ditunjukan untuk menjadi tempat ‘pelarian’ para pemainnya. Game pada dasarnya dibuat untuk menjadi hiburan. Mulai dari visual, jalan cerita, hingga sound-nya pun didesain sedemikian rupa agar dapat menghibur pemainnya. Nyatanya, hal tersebut memang berhasil apalagi di tengah pandemi ini. Menonton berita kenaikan kasus dan angka kematian setiap saat tentu akan membuat kamu semakin takut. Apalagi, kalau ekonomi sudah mulai terdampak, angka stres pasti akan meningkat. Untuk itu, game hadir sebagai pelipur lara.
Hal tersebut sebenarnya menghadirkan sebuah pro dan kontra. Bagi sebagian orang, bermain game dinilai lebih positif untuk menekan rasa frustasi. Namun, sebagian orang berpendapat bermain game memberikan dampak negatif kecanduan yang harus dihindari. Untuk itu, sebagai pengamat, perlu untuk dipahami bahwa memang ada orang yang perlu untuk menghilangkan rasa stres melalui game. Kemudian, sebagai pemain, milenial tentu harus ingat bahwa dunia yang kita jalani adalah dunia nyata dan kita harus selalu ‘menginjak’ dunia itu setiap saat.
Ketidakharmonisan Keluarga Menjadikan Game sebagai Happy Place
Tidak sedikit gamers menjadikan game sebagai happy place mereka di kala permasalahan di sekitarnya rumit. Salah satunya adalah sebagai sarana ‘pergi’ dari situasi dalam rumah yang tidak kondusif. Seperti yang kita semua alami, Indonesia sudah menerapkan Work from Home dan Learn from Home sejak awal Maret 2020 lalu. Hal ini membuat hampir seluruh masyarakat beraktivitas dari rumah. Sayangnya, rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung nyatanya lebih banyak menjadi tempat memupuk tekanan dari berbagai macam hal. Seluruh permasalahan rumah dan luar rumah tercampur aduk dan berdampak pada ketidakharmonisannya keluarga.
Hal tersebut terbukti melalui angka perceraian di kala pandemi yang meningkat seperti yang dikatakan oleh Menteri Agama, Fachrul Razi yang dikutip dari Detik News, dalam rapat berama Komisi VII DPR/MPR RI pada 23 Novermber 2020. Ia mengatakan, “Angka perceraian juga menurut informasi meningkat selama COVID ini,” Selain itu, Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menemukan kekerasan terhadap anak mencapai 5.697 kasus dengan 5.315 korban sepanjang 1 Januari 2020 hingga 23 September 2020. Melihat jumlah kasus tersebut tentu tidak mengherankan bahwa banyak orang yang lebih memilih bermain game sepanjang hari dibandingkan berbaur dalam keluarganya.

Apakah Saatnya Mengubah Home Sweet Home menjadi Game Sweet Game?

Pertanyaan ini sudah seharusnya lebih kita renungkan secara bersama-sama. Sudah berapa banyak air mata yang jatuh saat pekerjaan datang bertubi-tubi tiada henti dan tidak ada lagi kamar sebagai tempat istirahat? Sudah berapa kali kita menutup kuping untuk meredam hujan cacian dan teriakan kefrustasian seisi rumah? Kenapa bermain game harus selalu harus menjadi sesuatu yang bermanfaat besar seperti peningkatan kecerdasan teknologi ataupun tren mengikuti perkembangan IPTEK? Padahal, hal-hal kecil yang justru akan berdampak langsung pada kita, salah satunya adalah dampak game sebagai pelipur lara sehari-hari.
Sudah lelah menghadapi seluruh perusahaan pekerjaan, pendidikan, dan rumah, tapi tetap saja saat membuka game teguran-terguran usil kembali terdengar. “game terus!” “pantes lu masih gini-gini aja, kerjaan lu main doang”. Kalau terus begitu, bukankah kita akan semakin nyaman dalam dunia game? Hal inilah yang secara perlahan mengubah game menjadi “rumah”’ impian para pemainnya. Kehidupan nyata yang tidak menyenangkan membuat mereka semakin yakin untuk terus berada dalam zona nyamannya, yaitu game.
Tidak sedikit keluarga yang terlambat menyadari hal tersebut. Saat anak mengajak orang tuanya bermain, orang tuanya lebih memilih menyelesaikan pekerjaan dan pergi dinas berhari-hari. Anak pun akhirnya terbiasa bermain game sendiri di kamarnya. Lalu, Orang tua akhirnya akan merasa kesepian dan menyalahkan anaknya yang terus berada di kamar dan sibuk dengan video gamenya sepanjang hari. Padahal, kalua kita kilas balik, anak tidak dapat disalahkan sepenuhnya.
Untuk itu, agar figure “rumah”’ tidak tergantikan oleh game, kerja sama seluruh anggota keluarga akan sangat dibutuhkan. Orangtua perlu untuk terus menciptakan rumah yang menjadi temapt bernaung seluruh anggota keluarganya. Anak pun harus dapat menghargai keluarganya dan meluangkan waktu untuk berkumpul bersama. Karena, sama seprti yang terdapat dalam lirik lagu Keluarga Cemara, keluarga memanglah harta yang paling berharga dan tidak seharusnya figure tersebut tergantikan oleh apa pun.

Tinggalkan Balasan